Langsung ke konten utama

Retorika Kehidupan Aktifis

Pragmatisme vs Idealisme

Kau tahu? Apa bedanya HMI masa kini dengan Rumah Bordil?
Ya, silahkan jawab sendiri.

Maksud Saya begini, Saya pernah berpikir, hal pertama dalam hidup ini yang harus dihindari adalah kematian. Itu final. Dulu aku memandang cara berpikir yang seperti itu sudah mutlak.

Memang iya, apapun, bahkan makan daging anjing sekalipun, menjadi boleh bila taruhannya adalah terancam mati. (Tapi jangan makan "anjing" sih kalau bisa, takut jadi kanibal).

Tapi ada yang janggal, jadi begini, ada orang, dia cukup kritis, bacaan bukunya banyak, cakap, retoris dan amat menarik bila menjadi sosok pemimpin muda.

Saking "pedulinya" dia pada Indonesia, entah sudah berapa puluh kali dia turun aksi menuntut Pemerintahan yang lebih baik.

Dia Perantau, dari daerah, anak Petani berkekurangan, dan Saya yakin dia di Jakarta tidak punya rumah. Jadi dia hanya mampu ngekost.

Awalnya aku hormat padanya. Dia, yang ku tahu, sosok yang cukup sering melawan kemapanan. Dia teriak anti-korupsi, anti pelanggaran HAM, hingga sering menghujat PB HMI karena dianggap sarang "Pengolah". Ya, Saya pikir, dia sosok yang cukup sempurna sebagai seorang Mahasiswa.

Terlepas dia ke depan mau jadi apa, Saya cenderung kontemplatif bila menilai orang. Sebelum Saya menganalisa perilaku orang, seringkali Saya menatap cermin.

Saya sering membanding-bandingkan dalam hati, kesamaan diri saya dengan oranglain. Selain kesamaan, Saya juga sering mengukur apa kekurangan Saya, dan apa kekurangan oranglain, dan Saya unggul dibagian mana, dan oranglain tersebut unggul serta kurangnya dimana.

Saya ingin sekali menjadi orang yang pandai memaklumi. Saya berusaha banyak diam, dan berbicara bila dirasa sudah waktunya bicara. Saya suka jadi pengamat, meski terkadang Saya berteriak kencang.

Dari situ, Saya lebih mirip Analis Sosial. Dan tentu saja, dari observasi tersebut, Saya mendapat banyak informasi, termasuk kelakuan-kelakuan orang macam apa saja yang ku temui.

Kembali ke soal pelacur, bahwa, sebenarnya Saya tidak enak melarang orang "jual diri". Persoalannya, ketika Saya melarang, Saya tak punya solusi apa-apa untuk menggantikan perbuatannya. Saya tak punya uang, bukan pengusaha dan tak bisa menjamin apakah dia bisa makan atau tidak.

Ini tentu bukan lagi persoalan debat tentang konsepsi, ini sudah mengarah ke kebutuhan perut. Ini urusannya tentang cara orang bertahan hidup. Meski PSK yang jual diri di Hotel bersama om-om, juga alasannya soal "bertahan hidup".

Entahlah, Saya tidak hendak menjustifikasi apa-apa. Saya hanya ingin diskusi saja, dan bertanya beberapa hal, misalnya soal Aktivisme kader HMI masa kini, utamanya yang ada di Jakarta dan sekitarnya.

Maksud Saya begini, kira-kira, lebih utama mana, Kebenaran atau Kehidupan?
Soalnya banyak contoh Pejuang yang rela mati demi mempertahankan Keadilan, Kebenaran dan Prinsip yang diyakininya.

Misalnya Husein, cucu Nabi, yang rela mati ditusuk-tusuk pedang demi mempertahankan penolakannya terhadap Yazid, Pembesar Kerajaan Umayyah yang Zalimnya gak ketulungan. Padahal, kalau saja Imam Husein mau memberi bai'at pada Yazid, ya kira-kira dia dibiarkan hidup. Tapi tidak, dia memilih mati ketimbang kehidupan.

Disisi lain, ada diskursus bahwa, Kebenaran nomor dua, yang penting Hidup dulu. Karena tanpa nyawa dikandung badan, perjuangan akan berhenti disitu saja.

Misalnya, ada kisah seorang sandera yang hendak dibunuh oleh teroris. Si Penyandera hanya melepas mereka yang seiman dengannya, yaitu bila dia seorang Muslim, padahal dia Si Sandera Yahudi.

Ketika ditanya si Teroris, dia menjawab I'm Moslem. Lalu dia dites syahadat, dan dia mampu mengucapkannya dengan cukup fasih. Akhirnya dia dilepas, selamat, dan tetap hidup meski bermodal kebohongan.

Terkadang, Saya juga berpikir demikian. "Bohong sedikit demi tetap hidup, boleh kali yaa...", bisik pikiranku. Atau kalau dalam hal yang lebih sepele, "Bohong sedikit, boleh kali ya demi selamat dari hukuman dari atasan..".

Aaah... Itu sih yang bikin Saya malas. Kalau kita mulai membenarkan berbohong, ke sananya jadi cenderung mem-permisif-kan kebohongan.

Saya pernah punya teman kuliah, kerjaannya memfotokopi Surat Keterangan Sakit dari dokter. Biasanya, itu digunakan bolos bila ada jam kuliah yang berada di HARPITNAS (Hari Kejepit Nasional).

Waktu itu Saya geleng-geleng sambil ngelus dada. Soalnya, surat "sakti" tersebut, juga dipakai bila dia sedang liburan, padahal harusnya masuk kuliah.

Dia juga sering pakai surat itu ketika pacaran, liburan ke Bali, Eropa atau Arab, atau lagi malas masuk ke kelas. Maklum, dosennya juga tidak jelas dalam menyampaikan materi.

Dosennya, meski title akademiknya tinggi, sebenarnya tidak mahir mengajar. Tidak cakap, dan kalau didebat baperan.

Nah dari situ, Saya kepikiran, terkadang, di Indonesia, di negeri ini, suatu hal terkadang menjadi lancar dan baik-baik saja, justru kalau kita menggunakan kebohongan sebagai campuran dalam membela diri.

Tidak jujur pada kenyataan, atau mengelabuhi pikiran, sudah membudaya di Negeri ini. Makanya, Ketika Saya tahu banyak teman-teman demo karena dibayar, ya Saya pikir itu tidak aneh lagi.

Sudah wajar memang, ada oknum kader HMI getol menunjukkan kesalahan seorang Pejabat, atau Perusahaan, toh teriakkannya akhirnya digunakan untuk membuka lobby-lobby. Untuk transaksi dan berakhir dengan uang "tutup mulut". Itu sudah biasa.

Di dalam Himpunan ini, oknum-oknum yang menjual gerakan, memperdagangkan isu, kebenaran dan menggadaikan ide, sudah biasa. Apalagi, sekarang menjelang lebaran. Tentu kawan-kawan banyak yang mau mudik dan butuh THR.

Ada banyak statemen berkembang. _"Sudahlaah, tidak usah sok idealis. Perutmu lapar itu tidak butuh kebenaran, butuhnya nasi, ayam, karaoke, anggur, kopi..."._
_"Yaelaah,, hari gini bicara idealisme? Mati aja loe..."._

Ya mau bagaimana lagi, ini memang abad Materialisme. Segala hal, butuh uang untuk eksis. Bagi orang yang mencintai kehidupan, tentu kebenaran nomor dua setelah eksistensi. Tapi, bagi yang sufis dan merenungi hakikat kematian, kebenaran lebih utama ketimbang hidup dalam kemunafikan. Besok, tahun depan atau 15 tahun lagi, toh kita juga bakal mati. Kata mereka begitu..

Tapi, dunia ini kan bukan tentang diri kita. Masih ada Palestina yang dijajah. Masih ada Rohingya yang tertindas. Masih ada polemik LGBT, masalah Perkosaan, Perbudakan, kebodohan, korupsi merajalela, anak yatim terlantar, lumpur LAPINDO dan segudang persoalan dunia yang perlu kita selesaikan.

Bila kita meninggal sekarang, siapa yang akan berjuang atas semua itu? Kalau kita mati hari ini, siapa yang akan dukung KPK?

Jadi, ini dunia bos, bukan akhirat. Kita hidup dalam dunia yang dipenuhi sistem, hukum, standar moral dan kebudayaan yang tidak suci. Dimanapun adanya, ada kepalsuan dan kemunafikan. Dalih mereka begitu...

Berharap hidup bersih-suci dilingkungan yang penuh tai, hampir-hampir rasanya mustahil. Manusia, ya munafik dikitlah. Anak muda, ya brengsek sedikit juga tak apa-apa. Mahasiswa, bajingan sedikit juga tak apa laah. Kader HMI, sekali-kali "jual diri" ya tak masalah lah. Kan semua demi hidup. Tanpa hidup, perjuangan berhenti. Kalau perjuangan kader HMI berhenti, bagaimana mungkin terwujud masyarakat adil makmur yang diridlai Allah SWT? Iya toh? Bener kan omonganku?

Oleh : Penaku (Repost)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filosofi Kehidupan dalam Syi'ir "Waladatka Ummuka, Yabna Adama Bakiyan, Wannaasu Haulaka Yadhhakuuna Sururan" "Fajhad Linafsika Antakuna Idza Bakau, Fi Yaumi Mautika Dhaahikan Masruran"

ولدتك امك يا ابن اادم باكيا والناس حولك يضحكون سرورا فاجهد لنفسك ان تكون اذا بكوا في يوم موتك ظا حكا مسرورا "Waladatka Ummuka, Yabna Adama Bakiyan, Wannaasu Haulaka Yadhhakuuna Sururan" artinya: Hai Anak Adam kau terlahir dari Rahim Ibumu dalam keadaan menangis, sedangkan orang disekitarmu riang gembira akan kelahiranmu. "Fajhad Linafsika Antakuna Idza Bakau, Fi Yaumi Mautika Dhaahikan Masruran" artinya: Maka Berjihadlah untuk dirimu sendiri sebagai bekal diharimu mati nanti kau pergi dalam keadaan Tersenyum bahagia, sedangkan orang disekitarmu Menangisi kepergianmu. Fase Kelahiran: Kehidupan pertama seorang manusia didunia ini ialah bermula terlahir dari rahim seorang ibu dalam keadaan menangis, dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhmu, dan dalam keadaan "Awam" tidak berbekal pengetahuan apapun. Maka muncullah hadits yang menganjurkan Manusia untuk belajar dan terus menuntut ilmu karena "tiada manusia yang ter...

Mengenal Perbedaan Perang Simetris dan Asimetris

Konflik Gaza dan Israel bukan hanya menjadi isu panas dikancah pemberitaan Internasional, tapi juga disilain para pengamat militer juga memberikan pandangannya sendiri mengenai konsep peperangan yang lagi hits sekarang yakni Perang Asimetris dan Perang Simetris. manakah yang paling unggul..? Perang asimetris adalah suatu model peperangan yang dikembangkan daricara berpikir yang tidak lazim, dan di luar aturan peperangan yang berlaku,dengan spektrum perang yang sangat luas dan mencakup aspek-aspekastagatra (perpaduan antara trigatra (geografi, demografi, dan sumber daya alam), dan pancagatra; ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya).Perang asimetri selalu melibatkan peperangan antara dua aktor atau lebih,dengan ciri menonjol dari kekuatan yang tidak seimbang Strategi dalam perang asimetris tidak mendasarkan pada kekuatan senjata.Banyak faktor yang menyebabkan kelompok yang lemah dalam hal persenjataan, strategi dan taktik tempur, keluar sebagai pemenang dalamperang asimetris. K...

Sedulur Papat Kalimo Pancer

Sadulur Papat Kalimo Pancer Mungkin anda sering mendengar istilah Sedulur Papat Kalimo Pancer (Tretan Empak Kalemakna Bedhen, Madura red) atau biasa dikenal dengan saudara-saudara kita yang tak kasat mata. Mari kita kupas satu persatu Sadulur Papat Kalimo Pancer dengan menggunakan pendekatan pemahaman Kejawen, sebagai berikut. Siapakah Sedulur Papat (Empat Bersaudara) itu ? Sedulur Papat ialah saudara kita yang senantiasa menjaga kita sejak berada dalam rahim ibu hingga lahir ke dunia ini. Pertama adalah Kakang (Kakak) Kawah atau istilah lainnya adalah Air ketuban, kenapa menggunakan istilah kakak? Yaa, karena air ketuban keluar terlebih dahulu sebelum si cabang bayi lahir, Air ketubanlah yang membukakan pintu kepada si cabang bayi untuk keluar dari rahim ibu makanya ia diistilahkan dengan kakak karena yang lebih tua (keluar terlebih dahulu). Kedua adik Ari-ari (Temunih, madura red) setelah bayi lahir baru setelah itu, menyertai lahirnya sang bayi, keluarlah Ari-ari. Ari-ari sebagai...